HIV/AIDS Halal?

 

Sumber Foto: Dok.Humas Untag Sby
 
Pemerintah Provinsi Jawa Timur merupakan kawasan yang pertama kali memiliki peraturan daerah penanggulan HIV/AIDS di Indonesia. Namun, uniknya, jumlah kasus HIV/AIDS di Jawa Timur juga masuk jajaran teratas. Hal tersebut diyakini karena maraknya perilaku seks yang menyimpang sehingga pemerintah harus menyiapkan satu strategi untuk mencegah maraknya penyebaran HIV/AIDS.

Pembahasan menarik tersebut dibahas oleh Komisi Penanggulangan HIV/AIDS Pemprov Jatim bekerjasama dengan Indonesia Merayakan Perbedaan dan UNTAG Surabaya, Sabtu (26/1). Bertajuk “HIV/AIDS halal?”, acara yang mendatangkan beberapa tokoh lintas agama dan kepercayaan tersebut terselenggara di Gedung Graha Widya lantai 2 UNTAG Surabaya.

“Indonesia Merayakan Perbedaan” (IMP) sendiri merupakan salah satu program BBS TV untuk menyatukan antar lintas seluruh agama & kepercayaan, yang membahas mengenai hal-hal publik, untuk dibahas secara harfiah dan kepercayaan masing-masing dari semua lintas agama & kepercayaan.

Pada IMP kali ini menghadirkan narasumber sebanyak tujuh orang perwakilan agama dan kepercayaan yang ada di Indonesia. Mereka adalah; K.H. Mohammad Nizam As Shofa (Islam), RD. Agustinus Prastisto (Katolik), Pendeta Simon Filantropa (Kristen), Hs. Endang Titis Bodro Triwarsi (Kong Hu Cu), Prof. Dr. Ir. Nyoman Sutantra, M.Sc (Hindu), Romo Pandita Tonny Wijono (Budha) dan Naen Soeryono (Penghayat Aliran Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa). Juga menghadirkan keynote speaker Abdul Firman (Perwakilan Dinas Kesehatan Pemprov Jatim) dan Nuniek Silalahi (Budayawan dan Aktivis Kampus UNTAG Surabaya). Diskusi yang berlangsung selama dua jam tersebut dipandu langsung oleh Dr. R. Otto B Wahyudy, M.Si., MM.

Memulai diskusi, Firman menyebutkan strategi yang dilakukan Pemprov khususnya Dinas Kesehatan dalam menanggulangi penyebaran HIV/AIDS. Program bernama Three Zero tersebut berisi: 1. Tidak ada lagi penularan HIV, 2. Tidak ada lagi kematian akibat AIDS, dan 3. Tidak ada lagi stigma dan diskriminasi pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA). “Sayangnya, orang-orang dengan HIV/AIDS ini kerap kali tidak mau berobat karena adanya stigma negatif yang ada di masyarakat, mereka tidak memiliki dukungan orang terdekat. Padahal suksesnya program ini tentunya perlu dukungan dari semua, peran serta masyarakat sangat dibutuhkan,” tuturnya.

Sementara itu, Nuniek Silalahi menyebutkan bahwa butuhnya rasa cinta pada tuhan, tanah air dan sesama manusia sangat diperlukan dalam mengurangi diskriminasi pada ODHA. “Mereka adalah sebagian yang melakukan penyimpangan dalam budaya normatif, namun rasa cinta ini-lah yang kemudian mampu menggerakkan kita untuk merawat mereka,” terangnya.

Mengulas tema “HIV/AIDS halal?”, Gus Nizam pun menuturkan bahwa penderita AIDS berstatus “halal” apabila mereka mampu menerima hal tersebut sebagai peringatan yang merubah segalanya terutama spiritual, keyakinan, mental dan pola hidup dalam arti luas. “Kuncinya sabar, ikhlas dan pasrah. Pasrah bukan berarti menyerah, namun berserah diri, pantang menyerah,” ujarnya.

Romo Agustinus turut menyampaikan, “Masalahnya pada penderita AIDS adalah orang yang tersingkir, oleh karenanya perlu mewujudkan cinta kasih dan keadilan sebagaimana dalam sabda Tuhan”. Pendeta Simon mendukung Romo Agustinus dengan pendapatnya, “Kita tidak bisa menolong orang apabila kita sudah mendiskriminasi orang. Mindset ‘kalau saya menolong dia, bagaimana dengan nasib saya’ harus dirubah menjadi ‘kalau saya tidak menolong dia, apa yang akan terjadi padanya’. Menolong orang adalah mensubyekkan orang. Jadi itu adalah bagian dari iman”.

Lebih lanjut, Hs. Endang Titis menjelaskan bahwa keluarga merupakan tonggak utama dalam pencegahan penularan HIV/AIDS. “Dunia pokoknya negara, negara pokoknya rumah tangga, dan rumah tangga pokoknya diri sendiri. Jadi sebagai komponen kecil atas bertemunya pribadi, disinilah orang tua memiliki peran untuk memberikan pengertian kepada anak-anaknya. Menjadi model sekaligus pemuka agama pertama yang diyakininya disana,” tuturnya.

Tony Wijono sendiri menegaskan bahwa penderita AIDS tidak lebih nista daripada korupsi. Dan hal tersebut diamini oleh Prof. Nyoman Sutantra. Terlepas dari banyaknya orang dengan HIV/AIDS dikarenakan oleh perilaku seksual yang salah, sebagai orang beragama kita harus tetap merangkul mereka. “Yang salah bukan orangnya, namun perilakunya. Walaupun kena AIDS, mereka adalah saudara,” tutupnya. (ua/aep)

www.untag-sby.ac.id 

 

Komentar